Monday, May 14, 2012

is more than Tulips, is Netherlands!


Berawal dari besarnya harapan untuk mengenyam pendidikan gratis di Eropa, hadirnya salah satu Band asal negeri Tulip, Valerius, bisa dikatakan sebagai salah satu dasar pemicu yang berhasil mendorongku untuk menggali informasi lebih tentang Belanda.

Selain merupakan bagian dari sejarah Indonesia, pemahamanku mengenai negeri kincir mungkin hanya sebatas nama seperti Edwin van der Sar, Ruud van Nistelrooy, Robin Van Persie dan nama – nama pemain bola yang merumput di liga – liga Eropa atau pun punggawa tim nasional Belanda yang tahun 2010 lalu hampir mengangkat trophy Piala Dunia 2010.

Belanda merupakan tanah air dari nama yang tak asing seperti Rembrant, Van Gogh, Erasmus dan master seni serta filosof tersohor dunia lainnya. Gabungan dari letaknya yang strategis dan salah satu gerbang masuk ke Eropa, semakin memperluas jaringan perdagangan Belanda dengan dunia internasional. Kendati negara kecil, Belanda memegang peranan penting dalam perekonimian dunia, khususnya Eropa. Ditambah lagi dengan baiknya pengelolaan lahan, peraian, sarana transportasi dan juga tenaga kerja yang berkualitas. Wajar jika banyak perusahaan asing berinvestasi di Belanda. Baru – baru inipun Belanda meraih “The Best Place for Business”  (urutan 2 di dunia)

Belanda menitik beratkan pada hubungan international dan juga bidang industri. Perusahaan besar bekerja sama dengan institusi penelitian untuk menciptakan inovasi baru dan meningkatakan pelayanan masyarakat. Sebagai pionir dalam tekhnologi dan informasi, reputasi sistem pendidikan di Belanda telah diakui dunia. Pendidikan dan pelatihan merupakan hal wajib dalam sistem pendidikan Belanda. Mahasiswa Belanda memiliki kecenderungan untuk mandiri dalam kreatif guna menghadapi persaingan global. Pola diskusi yang diterapkan Belanda erat kaitannya perkembangan Industri kreatif di Belanda yang melahirkan tenaga – tenaga ahli professional, dan juga peraih Nobel.

Belanda berpenduduk padat dibandingkan dengan negara Eropa lainnya. Namun hal tersebut tak menjadikan negara Belanda semrawut. Bahkan Amsterdam yang berpenduduk terbanyak dibandingkan kota lainnya merupakan city withThe Best Quality of Living” . Hal tersebut merupakan cerminan dari baiknya sarana umum, perumahan, kesehatan, lingkungan dan stabilnya perekonomian. Bukanlah hal yang mengherankan jika Belanda juga menempati posisi ketiga untuk “The Best Country for work-life Balance”. Warga Belanda juga menempati urutan keempat untuk “The World Happiness Report”.

Liberal merupakan salah satu karakter Belanda. Mereka amat membuka diri terhadap dunia luar.Tak mengherankan jika Mahkamah internasional berkedudukan di Belanda. Negeri Kincir itu juga dikenal sebagai negara dermawan. Kepedulian akan kedamaian dan kemanan dunai mercatat di Belanda sebagai “one of the world’s most generous aid donor

Tak diragukan lagi Belanda menawarkan sejuta daya tarik untuk dijelajahi. Buka hanya museum, canal dan aneka bangunan bersejarah lainnya. Siapa yang bisa menolak sentuhan innovasi dan kecanggihan pendidikan di Belanda. So, it is more than Tulips, is Netherlands!

sumber:


Friday, May 11, 2012

Kilau dari Belanda

Koninkrijk der Nederlanden adalah nama sekaligus definisi letak dari negara Belanda yang hampir separuh wilayahnya lebih rendah dari permukaan air laut

Belanda makin dikenal dunia bukan hanya karena tempat lahirnya para Filsuf, Seniman dan Peraih Nobel kenamaan dunia.  Negeri tulip itu makin berkilau di kancah dunia dengan diraihnya beragam penghargaan.  "The Largest Exporting Country" (5th Place), "Happiest Nation in the world" (4th place), "Best Country for Work Life Balance'"(3rd place) hanyalah beberapa contoh diantarnya. 

Memiliki jumlah penduduk terpadat di antara negara - negara di Eropa merangsang Belanda untuk berinovasi dalam menciptakan hunian dan infrastruktur yang nyaman bagi warganya. Tengok saja Rotterdam,  kota tersebut tenar karena arsitekturnya yang menakjubkan. Bicara mengenai arsitektur, beragam design hasil rancangan Belanda telah tersebar di seluruh dunia. Si negeri kincir tak henti - hentinya menarik perhatian dunia dengan dinobatkannya Amsterdam RAI sebagai "The Best International Venue".

Masyarakat Belanda terbiasa untuk berfikir kreatif dan inovatif dalam segala aspek kehidupan. Bicara mengenai inovasi, tak salah jika Belanda disebut sebagai negara perintis.  "Water Prize 2012" sukes dikantongi oleh Ilmuwan asal Belanda. Bahkan Spark dan Pal V, perusahaan yang bergerak di bidang design dan inovasi, berhasil mewujudkan impian dunia untuk memiliki kendaraan yang bisa dioperasikan baik di darat maupun udara. Luar biasa, mungkin tak cukup menggambarkan hasil karya yang ditorehkan oleh para ilmuwan Belanda.

Apakah yang menjadikan the dutch sangat inovatif? Rasanya sulit menemukan jawaban yang tepat. Ide - ide kreatif tercipta bukan hanya untuk kepraktisan tetapi juga untuk meningkatkan nilai suatu benda. Sambangi saja Endhoven, kota itu kini makin bersinar dengan hadirnya The 'floating' LED Street, sentuhan inovasi dari Philips.  Sesuai dengan tujuan didirikannya Phillips, Improving people's live trough meaningful innovation . Tak salah jika perusahaan yang berbasis kesehatan dan kesejahtaraan itu mempunyai moto Sense and simplicity.

Berada diantara 3 sungai besar dan mudahnya akses menuju Eropa merupakan faktor penting dalam pertumbuhan ekonomi Belanda.  Ditunjang dengan prasana yang canggih, tak mengeherankan jika Belanda disebut sebagai "The Best Place to Business".  Suburnya sektor industri kreatif dan pariwisata membuahkan perekonomian yang stabil di Belanda. Hadirnya perusahaan seperti Univeler, Haineken, Shell, dll berdampak positif pada menurunnya angka pengangguran di Belanda.   

Tak ada yang meragukan reputasi akan baiknya kualitas pendidikan di Belanda. Terjangkaunya pelayanan kesehatan dan dukungan terhadap kesejahteraan merupakan faktor penting bagi tercapainya standar kehidupan tinggi di Belanda. Anak - anak di Belanda dinilai sebagai anak - anak yang paling beruntung di dunia. Jadi, siapa yang tak terpesona dengan sejuta kilau yang Belanda tawarkan?

Keterbukaan dan keterusterangan adalah kultur orang Belanda. Mereka dikenal blak - blakan tetapi sangat menghormati orang lain. Cara berfikir liberal dan toleransinya yang tinggi, mengarahkan Belanda untuk menjadi negara pertama yang mendukung dan melegalkan pernikahan sesama jenis. Namun bukan berarti tanpa batas, kebebasan dan keterbukaan menjadi hak yang tetap harus dapat dipertanggung jawabkan. 

Tak bisa dipungkiri, Belanda menginspirasi dunia dengan kepribadian mereka. Mengilhami kita untuk lebih berani, jujur dan terbuka. Belajar dari para pelopor untuk be ourselves dan menumbuhkan sifat percaya diri untuk mengasah kemampuan yang kita miliki. 

Sudah saatnya untuk menunjukan kilaumu dan tetap hormati sesama. 

Saturday, May 21, 2011

The Ticket

"My heart is really been captured by that girl so firmly since that time..... That girl amaze me, whenever she is right now.."

Masumi plot, from Glass Mask Manga Series http://www.mangahere.com/manga/glass_mask/

I met her on my way to attend the seminar....
She bumped front of me.... At italian restaurant, when she left her table, her feet tripped over the table's leg. 
Fortunately, she didn't offended by the cracking pieces of glass
I helped her to stand, her face was really red.. 
She was looking around and then she stared at me for a while. 
I heard she said, "i, i... sorry..i and i, thank you" She tried to release my hand from her shoulder.I could smell chocolate and orange from her.
Her face was so cute, her cheeks was still read, her lips pouted like... wanna say something but she drop it, that make her so adorable.

She is beautiful, i could say that. Trying to remove my hands from hers again. 
" i am sorry, are you OK" I asked her, without take my hands.
Her eyes, i could stare all day, or maybe forever. 
Then she replying my softly, "mm, y.. yes. i..i. t..thank you". She released my hand and left me in daze. 
Was she Ok, did she was injured or maybe hurt. 
How could she left like that without give me a chance to know her.
Where i should looking for her? or how i could know her name?

Already passed over a year and I still remember that. The day that angelic girl bumping at me.

Have i chance to know her? maybe someday... i don't wanna give up on her. I cant pretend to forget about that day. i already did but i cant.
Maybe, one day, i can meet her, and maybe she let me to know her better.
I have to keep my hope high coz she already take my heart.



*********************************************************************************************************************************************************

"I used to take things as they come, if i keep being afraid of getting hurt then i won't be able to do anything at all... But in time like this, i need to be stronger.... it doesn't matter if i don't succeed, i'll gather up my courage and try anyway.. i'll take my destiny into my own hands. I have depend on my own hands to open the gates of my fortune.... only if i use my own hands."

I wonder if there is time machine so i can go back to the time that i want to remake/re-live. 



"She is on the other side of the road, and i'd thought that the spotlight would always stay red. when did it change to yellow?? By the time, i did notice it, the spotlight had already changed back to red. The red spotlight"
But the spotlight won't be red forever

... the sweetly smiling trap is your lips, kiss before my eyes.. lets fall in love..... Kiss before my eyes. Sin is Rose - colored....
trap, trap, trap... Fall into the trap, tempting love... inviting me, kiss before my eyes
I can feel the beat from your body... kiss, kiss, kiss fall in love
Its not only words of kindness .. the love between you and me.. is full of joy..
Your sigh breathes across my eyelids...
Kiss, kiss, kiss... fall in love, just for this moment, Lets us burn passionatly... You and me right now
#KissBeforeMyEyes

Be My Only by FM Radio

 
 
 
i can tell by the way you look at me you need to be mine 
we could sit watch the stars all night till they disappear into the sky
i am yours and i know that you're mine
you are worth waiting for 
you are worth waiting for 
be my only, be my only, be my only 
your hands is mine, i swear love speeds up time
and wind blows southern skies like lullaby
wasn't hard to fall your love a wrecking ball
watch your hands move along my face the trace all the line i've lived
it isn't hard to love your scars cause that's everywhere you've been 
I am yours and i know you are mine
you are worth waiting for
you are worth waiting for 
(chorus)
you are the one i'll compare all the others to like sunny weather
you are the one i'll always come back forever
Be my only, be my only
your hands is mine
I swear love speeds up time
and winds blows southern skies like lullaby
the good, the bad i take it all your love wrecking ball

Friday, May 13, 2011

Belog Sajan Ci puk

Aku begitu menikmati hari -hari di  Kuta - Legian. Untuk kali ini, aku akan menghabiskan sepanjang siang di Pantai Seminyak sembari berharap adanya setitik kemungkinan yang semoga  saja dibawa oleh Dewi Fortuna kali ini. *Menerawang. Keberadaan ku di Pulau Dewata ini sudah hampir tiga minggu. Kulit pun sudah mulai merah kecoklatan. Rasanya tak sabar untuk segera mengarungi ombak di sana.

Minggu kedua di bulan Mei, jalanan di sepanjang Kuta - Legian makin dipadati turis. Penjaja toko di kanan - kiri jalan semakin aktif menawarkan dagangan mereka. "Jangan beli di sini" begitu nasehat seorang teman bali. Karena saran dialah, setiap kali melewati jalanan ini, tak sedikitpun aku tergoda untuk membeli.

Perjalanan Kuta -Seminyak, diwarnai macet dibeberapa tingkungan. Toko, butik dan restauran pun mulai dikerumuni turis. Dalam waktu kurang lebih dua puluh lima menit, sampailah di Seminyak. Disambut teriknya matahari, dan hembusan angin yang cukup kencang siang itu, setelah memarkirkan motor di bawah pohon rindang, aku langsung melangkah ke pantai. Ombaknya masih riuh rendah siang ini. Aku memang sengaja dateng lebih awal supaya bisa pemanasan lebih dulu. Salah satu keuntungan di Seminyak adalah pantainya lebih sepi jadi terasa lebih tenang. Namun banyak juga gak enaknya, karena saking sepinya penjual minuman pun hanya ada satu, penjual  makanan hampir saja tidak ada. Begitu juga penjaja payung pantai, tukang pijit ataupun tukang tato tak satupun terlihat di sekitar sini. Apa karena belum masuk ke musim liburan jadi Pantai masih sepi?. Ataukah memang seperti inilah keadaan Pantai Seminyak? atau mungkin karena ada Pura di dalamnya sehingga ada batasan - batasan yang harus dihormati. Entahlah, aku juga tak tahu. Akan ku tanyakan ke teman bali ku nanti.

Setelah berkeliling dan mengamati sekitar...membuat ku tiba - tiba teringat perjalan ke Bali pada waktu itu...


Tak sabar untuk segera berangkat ke Bali, satu jam sebelum boarding, aku sudah berada di bandara Soekarno Hatta. Tak ingin membuang waktu, aku pun langsung check in. Setelah mendapat nomor kursi,  aku pun langsung masuk menuju pintu pemeriksaan dan sambil menunggu boarding, ku memanfaatkan waktu dengan menikmati musik sambil duduk di gang way. 

Sekembalinya dari toilette, aku pun  berniat untuk duduk kembali di gang way gate C2 tadi. Namun kali ini ada yang berbeda, ku lihat hal yang sedikit menarik. Seorang gadis mengenakan kaos putih dan cardigan biru garis berlengan tiga perempat, menatap kearah ku lekat - lekat.

Duduklah aku di sebuah bangku yang berada tepat berseberangan dengan gadis itu. Dia pun terlihat salah tingkah saat pandangan kami bertemu. Sambil mengetik sesuatu di blackberry-nya, gadis itu tersenyum. Mukanya kemerahan. Aku tak bergeming. Tetap duduk sambil mendengarkan musik. Ada suatu hal entah dari mana datangnya, membuatku ingin melihat ke arah gadis itu. Lalu, matapun bertemu mata. Dia hanya tertegun lalu menunduk dan mengetik sesuatu di blackberry-nya lagi. Secara sembunyi - sembunyi, gadis itu kembali menatap. Setelah akirnya kepergok beberapa kali, gadis berambut ikal sebahu itupun mengarahkan pandangannya ke tempat lain., 

Sesaat aku pun menunduk dan mengganti play list musik, ketika kembali menatap ke depan,  gadis itu sudah menghilang. Aneh!!

Tak lama, aku pun menuju ruang tunggu keberangkatan pesawat. Setelah mendapat pemeriksaan dari petugas, aku duduk memunggungi pintu masuk. Setelah beberapa lama, aku merasa seperti ada seseorang yang mengawasi. Saat menoleh ke kiri, gadis berkaos putih dengan cardigan garis - garis tiga perempat dan tas ransel hitam yang tadi ku lihat di Gang way gate, sudah ada di sini. Aneh. Sungguh merasa kebetulan ini sunggulah aneh. Mungkin saja karena terlalu bosan menunggu membuat merasa kalau kebetulan ini adalah hal yang tak biasa.
Si small girl, begitu  aku menyebutnya. Ku sebut seperti itu karena tubuhnya memang mungil, tidak sesuai dengan usianya yang ku duga lebih dewasa dari tampangnya. 
< *begitulah gambaran yang paling tepat mengenai dia.

Diapun kembali menatapku. Mungkin itulah alasan dia mengambil kursi jauh namun tetap berhadapan dengan tempatku duduk. Saat aku menatap ke depan, dia masih saja menatapku. Its really awkward. Kali ini, that small girl tampak sedikit jera, diapun mengalihkan pandangannya ke jendela dan memasang airphone di telinganya sambil tetap mengetikan sesuatu di blackberry merah maroon-nya . 

Tak sabar untuk segera menaiki pesawat, akhirnya membuatku bertanya kepada petugas informasi yang duduk di tengah ruangan. "Lima belas menit lagi, Anda diijinkan untuk memasuki pesawat" begitu ucp seorang petugas. Setelah mendengar penjelasan si petugas, aku pun duduk di sisi lain ruangan.Saat ku lihat ke arah gadis itu, diapun masih menatap jendela. Tak lama setelah itu, aku pun menuju antrian untuk memasuki pesawat.

Setelah menemukan kursi sesuai dengan nomer yang ku miliki dan meletakkan tas di bagasi pesawat, aku pun duduk. *Rasanya tak nyaman sekali kursi pesawat ini. Ketika aku melihat ke depan hendak berdiri, ternyata that small girl sudah ada di hadapanku. Dia menengadahkan pandangannya menatap nomer - nomer yang tertera dan mencocokkannya dengan kertas yang ada ditangannya.

Karena dia hanya diam, akupun akirnya bertanya pada gadis itu. "Do you sit here?". Jawaban "Ya" -nya terdengar sayup - sayup ditelinga.*Oh My God, she's my companion..., i think that she will going somewhere, but doesn't take the same as me.

Lalu aku pun berdiri di gang way untuk membiarkan dia masuk dan duduk di bangkunya setelah sebelumnya aku membantu gadis itu meletakan tas punggungnya di bagasi. *its heavier than i though. Dia tidak mungkin bisa meletakkan tas miliknya dengan tangannya sendiri. Tak mungkin terjangkau olehnya. Akupun tersenyum melihat usahanya. Ouuch!!! Seorang penumpang yang tidak sabar lewat menabrakku, saat aku menunggu gadis itu duduk.


She looks like smiling while looking at the window. Her face is red when i ask her, "the toilette is right there, right?" and kind of shocking, she turn her head and nod while smile she said, "Yes, i think".

To be continue.....

Tuesday, April 26, 2011

Sepercik memori Gate C2

Inilah hal yang bisa bikin gw tersenyum - senyum sendiri, bahkan sampai sekarang.... jadi kalau gw tiba - tiba senyum tanpa alasan, pasti karena hal ini... wkwkwk ngeles yang bagus

Thursday, April 21, 2011

Gate C2

Pesawat yang akan gw tumpangi baru akan terbang dijam 12.40. Seperti perjalanan di Jakarta pada umumnya waktu tempuh dari tempat tinggal gw ke Soetta atau Soekarno Hatta, normalnya adalah dua sampai dua setengah jam bahkan bisa lebih dari tiga jam. Minggu pagi itu, gw berangkat dari rumah ber-Taxi, jam 08.40 menuju Blok M. Dari sanalah Bus anter jemput Bandara yang akan gw naikin parkir. Awalnya gw agak ngeri naik Bus DAMRI ke Bandara, tapi itulah pilihan yang pengin gw jalanin. Secara lebih hemat dan gw merasa agak lebih mandiri kalau naik Bus. Pas sampai di Blok M, ternyata Bus siap berangkat, bahkan hampir aja ninggalin gw yang baru keluar dari pintu taxi. Setelah dibantu Pak sopir taxi buat ngangkat koper dan memasukkannya ke dalam bagasi Bus, berangkatlah gw menuju bandara tanpa perlu menunggu. Padahal DAMRI biasanya berangkat setiap setengah jam sekali.

Hanya sekitar (kurang lebih) dua puluh orang di dalam bus yang berkapasitas lebih dari 40 orang itu. Jadi, satu orang bisa duduk sendiri di deretan bangku tiga, dan gw adalah salah satunya. Perjalanan kali ini adalah perjalanan sendiri gw untuk pertama kalinya.. Perjalanan yang memakan waktu kurang lebih empat puluh lima menit sampai satu jam, gw gak inget pasti, yang jelas gw udah sampai di bandara di jam 11. - an, tepatnya gw jg gak inget :D, meskipun gw tiba lebih awal di Bandara, gw buru - buru langsung check in. Karena nggak mau ngebayangin dengan kerepotan yang akan gw alami kalau harus mondar - mandir dengan narik tas kemanana - mana. Alhasil kedatangan kepagian gw juga disambut mas - mas petugas check in dengan muka masih sumringah. Iya Mas, saya kepagian. Pantesan, selama ngantri, gw gak denger kata Denpasar disebut oleh para pengantri di depan atau belakang gw. Ah sudahlah, gw cuma pengin segera menyerahkan tas merah gw buat di bagasikan si Mas, setelah itu, gw gak tau mau ngapain juga sebenernya... :D

Penyesalan gw saat itu adalah tidak request kursi, dekat jendela. Padahal di waktu sepagi itu, gw bisa mesen kursi mana aja deh kayaknya, tapi gw lupa niat dan tujuan gw di depan mas - mas petugas selain kasih tahu kota tujuan keberangkatan gw. Gw langsung ngacir gitu aja tanpa meminta kursi dekat jendela. :(( :((. sambil berdoa dalam hati, semogaaa si mas kasih kursi terbaiklah, diakhiri dengan senyum karena  gak ada gunanya lagi menyesal. Sewaktu di rumah, di dalem bus bahkan pas nyampe area bandara, gw berniat dalam hati untuk minta kursi di dekat jendela.. tapiii.... gw lupaaa, lupaaa. sama sekali tidak ingat... sampai akhirnya gw bayar airport tax dan ngacir dengan amat perlahan menuju Gate sesuai tulisan yang tertera di kertas.

Masuklah saiaa ke pintu, menuju gate. Tarataratara, padahal gw kan masih punya waktu lebih dari dua jam untuk mondar mandir di luar dan cari fast food.  Hal itulah yang menjadi penyesalan selanjutnya.  Karena keterburu - buran gw, akhirnya gw hanya bisa menikmati sandwich daging asap tanpa rasa dengan harga yang menyebalkan dan mba - mba pelayan yang tampangnya mengira seakan gw gak bisa bayar. Tapi itu sih cuma dugaan gw doang, :D

Sandwich seharga dua puluh ribu dengan rasa lima ribu, gw nikmati sepelan - pelannya... supaya waktu berjalan lebih cepat ketimbang kunyahan gw.  Temen duduk gw sekarang sudah ganti menjadi seorang Ibu dengan usia kurang lebih 45 an tahun kayaknya, tapi kayaknya lebih tua dari itu deh. Gayanya perlente dan anggun. Kalau gw boleh nebak, profesinya adalah notaris. Itu jawaban sotoy gw, karena dua hari sebelumnya gw baru ketemu notaris, yang kayaknya seumuran si Ibu yang duduk di depan gw ini.  Si ibu berbaju merah itu menyeruput kopi pesanannya sembari menunggu soto ayam pesanannya. Dia komplain kalau makanan pesanannya datengnya kelamaan.

Temen duduk gw sebelumnya adalah dua orang laki - laki. Keturunan arab yang tinggal di sunda, kayaknya. Soalnya, cowo yang lebih muda, botak berkacamata minus yang seinget gw, dia berkaos hitam dengan gaya bicara kayak orang sakau, dia berumur tiga puluhan. Pria satunya, bertampang sangat arab, dengan jenggot yang dicukur seminggu atau dua minggu lalu, gaya bicaranya biasa aja. Pria yang kedua ini, berumur lebih tua, sekitar 40 tahunan, mengenakan kemeja kotak - kotak. Kedua teman duduk gw, memesan es teh manis lalu menikmati asap mereka setelah meminta ijin dulu ke gw tentunya. Secara gw duduk di sana lebih dulu. Walau sebenernya gw agak keberatan harus ngirup asap tapii ya sudahlah... selagi mereka masih punya sopan santun dengan meminta... gw menghormati itu, ahay lebay

Setelah gw merasa cukup membuang waktu gw, gw meninggalan si Ibu, yang masih menikmati setengah soto pesanannya. Senyum simpul tanda hormat sebagai teman seperdudukan *silahkan dicek di KBBI. Gw kembali menggendong satu gembolan yang tak mungkin gw bagasikan, menuju gate pertungguan *gw pasti akan dimarahin guru bahasa indonesia niy. Melewati kembali pintu pemeriksaan barang. Gw masih punya waktu sekitar lebih dari satu jam buat berbosan - bosan ria sebelum boarding. Duduk menikmati sekitar tanpa airphone, supaya gw bisa benar - benar merasakan suasana sekitar. Menatap orang yang lalu lalang dengan gaya masing - masing. Itu adalah kegemaran gw. Ya mengamati orang :D... jangan ditiru yaa :p

Setelah beberapa kali pindah tempat duduk, mata gw menangkap sebuah pemandangan menarik. Ya, seoarang cowo dengan t-shirt hitam bermotif. Dia mengenakan topi pet kotak - kotak kecil berwarna agak kehijauan, mengenakan airphone besar dengan gaya agak snob. Tapi bukan karena tampang lumayan dan tinggi badannya atau gaya coolnya yang bikin gw ngeliat dia lebih dari lima detik. Karena kemiripan tampangnya dengan salah seorang yang gw kenal (anggap teman, atau teman jauh, atau temannya teman :D) yang bikin gw perhatiin dia. Sampai kayaknya tuh cowo nyadar. Wkwkwkwkwkwk..kebiasaaan yang sungguh buruk. Dua kali ketemu di gate. Gw menyakinkan diri kalau dia hanyalah salah satu objek yang bisa gw nikmati dalam perjalanan, supaya gw ga terlalu ngarep (bakalan bisa ngeliat tu orang lagi) Dia sempet duduk di seberang gw, dan tanpa ingin kehilangan kesempatan gw pun melihat ke depan dengan maksud bisa curi - curi pandang sedikit. Sampai akhirnya tuh cowo melangkah menuju gerbang tujuannya... Ah, ternyata cuma sampai di sini aja, kenikmatan perjalanan gw sambil nebak - nebak tujuan dia. Penginnya siy bisa lebih lama ngeliat dia karena cuma dia objek yang lumayan menarik selain langit yang cerah minggu itu. lebay.... tapi apa mau dikata.... sampai akhirnya sebuah sumber suara terdengar

Setelah mendengar panggilan operator, gw masuk Gate C2 sesuai dengan instruksi dan  menuju ruang tunggu. Pandangan mata gw, tertuju pada punggung pria bertopi pet yang sedang duduk di ruang tunggu itu. Ah, ternyata bener. Itu dia salah satu objek yang telah menghiasi sela - sela waktu penantian gw di Gate Soetta. Mr Nice, gw menyebutnya *ketemu juga panggilan dan  mukanya nan snob tapi menawan, ahay ahay deh. Pas gw ngelewati pintu masuk ruang tunggu, tuh cowo malahan noleh lagi. Jadi jangan salahin gw kalau gw lagi ngeliatin dia. Bukan apa - apa Mister, saya cuman mau nanya, apakah anda masih ada hubungannya dengan orang yang saya kenal?. Ah tapi itu gak mungkin gw tanyain, secara gw merasa udah kepergok sama tuh orang. Jadi, mana punya keberanian lagi buat nanya sama dia.

Seorang petugaspun meminta tiket gw dan mencocokkannya dengan daftar yang terpampang di mejanya. Setelah meminta KTP gw, lalu dia menyilang sebuah kotak. Lalu mata gw pun melihat kertas yang baru saja di silang sama si embak, tepatnya ke kotak milik gw itu. Agak sedikit seneng dan kaget pula sambil mikir juga. Emangnya bisa apa, orang merasakan beberapa emosi dalam waktu yang bersamaan kayak gitu. Tapi kayaknya siy itu yang ada dipikiran gw saat itu. Seneng karena kemungkinan kursi gw berjendela, kaget pasti karena si Mas petugas check in ternyata berhati mulia dan keputusannya tepat seperti harapan gw, mikir jangan - jangan walaupun sudah di pinggir tapi bukan sebelah jendela. Ah sudahlah, kenapa otak gw mikirin kemungkinan - kemungkinan yang gak jelas kayak gitu. Just enjoy the show deh, maksudnya enjoy the flight ajalah... Gw pun memasukan kembali KTP dalam dompet, dan melihat lagi kotak si emba. Gw berterima kasih dalam hati buat mas petugas check in yang sudah ngasih kursi itu. Seperti apapun posisinya nanti. Sambil mencari bangku kosong untuk duduk, gw masih mikirin posisi kursi gw lagi. Ah gw yakinin aja diri gw kalau selama kira - kira satu jam dua puluh lima menit, gw gak akan di duduk di tengah diantara orang - orang tak di kenal, atau duduk di jalan deket orang mondar - mandir. Walau masih ada sedikit kehawatiran juga. Gw gak ingin berandai - andai atau mikir apa yang akan terjadi di dalem pesawat nanti karena gw cuma pengin menikmati perjalanan ini. titik. sekali lagi gw meyakinkan diri gw sendiri.
 
Duduklah gw di deretan bangku di depan cewe, yang gayanya mirip banget temen kuliah gw. Hampir aja gw tabok dia, tapi gak jadi karena gayanya bukan temen gw banget walau mukenya mirip. Selama kurang lebih empat puluhan menit, gw duduk di kursi di depan tuh cewe, mengamati sesamar mungkin si cewe sekaligus sedikit ngintip muka si mister yang bisa gw liat dengan jelas. Dia, Mr. Nice, duduk di hadapan gw, di deretan kursi di belakang tuh cewe. Ah kursi yg gw pilih ini bukan kursi terbaik siy, agak salting karena gw bisa dengan jelas ngeliat tuh cowo dan begitu juga sebaliknya. Akhirnya gw putusin untuk berhenti menikmati sekitar dan dengerin beberapa lagu sebelum akhirnya di panggil petugas lain untuk segera masuk pesawat. Si Mr. Nice udah melepas airphonenya, bahkan dia sudah berpindah posisi, di dekat meja informasi yang terletak di tengah sekaligus membagi ruangan menjadi dua sayap. Gw yang gak bisa konsentrasi dengerin lagu, akhirnya ngeliatin lagi orang - orang yang ada di depan gw. Begitu gw noleh ke arah meja informasi, si Mr. Nice sudah duduk di sayap lain. Ah kayaknya gw harus segera mengakhiri keindahan pandangan mata ini. Panggilan lain telah berkumandang soalnya. Bye Mr. nice, begitu farewell yang sekali lagi hanya hati dan pikiran gw yang tau. Oh kalau Tuhan pasti tau, jangan ditanya lagi.

Bismilah ajalah gw, mengikuti panggilan yang menuntun gw ke antrian lain menuju lorong yang akhirnya akan membawa gw masuk ke badan pesawat. Agak lama juga tuh antrian. Orang - orang asing yang ngantri bersama gw, gak ada yang menarik lagi kayaknya, kecuali cewe yang mirip temen gw itu, karena ternyata dia satu tujuan, bahkan mungkin duduk sebelahan. Ga ngarep jg siy, tapi siapa tau bisa kenalan. Mungkin aja dia masih ada hubungan sodara sama temen gw. Gw mengantri dengan manis dan gw buang jauh - jauh tuh yang namanya pesimis, karena sekali lagi gw pengin menikmati perjalanan dan pekerjaan yang akan gw lakukan. Pokoknya menikmati segalanya termasuk kebaikan atau keburukan yang gw temui. Entah apa yang merasuki gw kali itu, gw lagi dalam keadaan teramat sangat optimis. Apa yang gw pikir buruk, belum tentu buruk, begitu juga sebaliknya. Pokoknya apa yang telah dan akan terjadi adalah rencana terbaik Tuhan. Dan gw yakin kalau Tuhan akan ngasih yang terbaik buat gw.
Gw keluarin lagi boarding pass gw, sekali lagi nge- check nomer kursi yang akan gw duduki. 24A takutnya gw salah liat tadi. Dua Empat, angka yang baik menurut gw. Di sambut mbak cantik, pramugari, gw melihat ke atas dan menghitung nomer. 8C, 9C.. kok kursi gw masih jauh ternyata. Maklum aja, gw bukanlah orang yang sering melakukan perjalanan, apalagi dengan pesawat. Beruntung akhirnya Tuhan memberikan gw kesempatan lagi lewat kerjaan gw dan kebaikan hati bos gw tentunya :D. Sampai akhirnya mbak pramugari ber T-shirt orang nanyain gw, lalu nyuruh gw untuk jalan terus setelah gw bilang nomer kursi gw.
Sampailah gw pada bangku - bangu berkepala 20an, 21 ABC, 22 ABC dan seterusnya sampai tiba pada angka 24. Gw mematung selama beberapa detik. Asli, gw gak nyangka banget. Kaget karena di depan gw, si Mr. Nice udah duduk di sana. Di deret yang menunjukan nomer yang sama dengan nomer yang ada di kertas gw. 24 A B C.  Seketika tuh Cowo berdiri dan dia, mengatakan sesuatu yang gak bisa gw denger dengan jelas. Kalau gak salah, "Do you sit here? atau you sit here?" pokoknya sesuatu seperti itulah. Hadooh selain jadi bego, ternyata jadi budeg juga... wkwkwk, itu bukan bawaan lahir kok,  suer. Kemudian dia keluar dari tempat duduknya dan menyuruh gw masuk* setelah dia melihat anggukan kepala gw. (*baca masuk untuk duduk). Tentunya setelah dia membantu meletakkan tas gw yang berada jauh dari jangkauan tangan gw. Bahkan dia sempet nabrak orang gara - gara dia nungguin gw duduk. Wkwkwk, gak bermaksud deh mas, suer deh. Gw denger dia bilang sorry pas nabrak. Kok roman - romannya, dia bule yah, bulen aka bule tulen, apa campuran kayak Cinta Laura.. whatever deh

Gw jadi agak salah tingkah niy mas.... hadeuh... satu jam dua puluh lima menit gw bisa jadi deg - deg ser niy nampaknya. lebay lagee. Gw senyum - senyum ke arah jendela yang masih menampang aspal airport karena gak mungkin juga gw kalau tiba - tiba senyum tanpa alasan. Pasti akan diliat dan dikira aneh sama temen seperjalanan gw ini. Maaf yah Mr. Nice, gw udah gak tahan lagi soalnya. Bener - bener pengin ketawa *ngakak sambil mikir kok bisa siy. Sungguh tiada sangka tiada dinyana bisa dapet temen duduk semenarik ini. Wedewwww. lebay kumat. Terus tuh Mr, berdiri dan bilang ke gw: "the toilette is right there, right?" sambil menunjuk. Gw yang sekali lagi kaget karena dari tadi menatap jendela sambil tak lupa berucap syukur, lalu menoleh ke dia dan ke arah yang dia tunjuk sambil  menjawab: "Yes,  i think" dan diakhiri dengan senyum yang mudah - mudahan manis. 

Dia cuma sebentar ke toilette. Apa toilette -nya gak nyaman atau emang gak ngantri, atau jangan - jangan dia cuma ngecek tampang? itulah beberapa pertanyaan yang terpikir di kepala gw *maapya, memang saya terlalu pede. Dia duduk kembali di kursi 24C miliknya. Terus dia mengucapkan sesuatu lagi setelah krasak krusuk. Oh rupanya dia merasa tak nyaman dan dia perlu memudurkan kursinya. Oh Mr, makanya punya kaki jangan panjang - panjang. Dia mengalami kesulitan buat mundurin kursinya... tapi malahan gw bilang gak perlu, pas dia nanya kok kursinya susah dimundirin siy. Wkwkwk, salting lebay lagi deh gw, sampai malu. 

Gw menungu dan menunggu seperti apakah orang yang akan duduk di bangku 24B. Diantara gw dan Mr. Nice. Sampai akhirnya pesawat lepas landas, Tuhan menakdirkan gw untuk duduk berdua dengan si Mr. Nice yang kayaknya berumur di awal dua puluhan. Ah jadi sensitip niy, gw kan udah lebih dari seperempat abad. Jadi mikir yang enggak - enggak lagi kan gw. Tuhanpun membiarkan kursi 24B tersebut kosong. Oh alhamdulillah ya Allah, begitu ucap gw. Cuma duduk berdua dengan orang bertampang tampan menjadi sebuah kebahagiaan buat gw, dan bukanlah awal yang buruk buat perjalanan gw. Alhamudulillah sekali lagi lagi dan lagi. Nengok ke kanan si Mr, duduk manis, nengok ke kiri jendela yang siap memampang keindahan. Subhanallah, oh betapa perjalanan yang mengesankan.. :D *lebaydikiloin

Lalu jendela yang berukuran seperti layar TV berbentuk vertikal berukuran kurang lebih 16" sudah memperlihatkan landskap pulau dewata. Indahnya... Gw gak bisa sedikitpun tidur kali itu, walau gw udah nyoba berkali - kali yang malahan berakhir mengamati si Mr. yang kayaknya nyenyak banget. Dari posisi nganga sampai posisi muka ada di hadapan gw dan nganga lagi. Airphone sudah menggantung di lehernya. Tebel banget alisnya niy orang. Busyet kakinya masih mentok aja, padahal bangku udah mundur, sampai akhirnya dia ngulet dan bangun begitu pesawat sudah ada di cakrawala bali. "Can you see that, the view" cuma kata - kata itu yang bisa keluar dengan ringan, sambil menatap jendela dan dia bergantian. Singkat kali jawaban dia. "Yes, yeah". Masa gitu doang siy. Tapi emang apa lagi yang gw arepin? Dia pindah tempat duduk ato dia ngomong apa kek yang lebih dari itu. Tapi ya sudahlah, dia merespon dengan baik aja gw udah bersyukur. :) Tetapi dia melongokkan wajah tampannya buat ngeliat pemandangan di jendela kok, dia juga senyum pas ngeliat gw, bersahabat sekali tampangnya... ramah dan gak cuek, gak snob juga... *eloboleh bilang gw kegeeran kok

Setelah melepaskan seatbelt, dan keluar dari kursi 24A, gw ngeliat ke arah si Mr lagi, kayaknya bule deh dia atau emang keturunan bule yang gak bisa bahasa indonesia? ah terserah deh ah. Gw sempet ngintip tulisan di tas si mister pas dia tidur, sekali lagi kayaknya niy, dia abis terbang dari changi airport deh. Gw pun berasumsi kalau si mister ternyata bule toh. Abis tampangnya gak gitu bule siy, menipu ah. Dia pun mengambil tasnya dan dengan gentlement -nya dia mengambilkan tas gw, "which one is your bag?" kata dia sambil menyentuh tas - tas yang berada sangat jauh dari jangkauan gw itu. Tapi mas ato Mr. kalau bukan dirimu yang ambil, pasti akan ada orang lain yang akan ambilin ato mbak - mbak pramugari yang akan nolongin gw. You are the lucky one, could do that for me Mr, hehe.. sambil ngedongak, gw bilang, "No. That is mine" sambil menunjuk ke arah samping tas yang hampir aja diambil dia. 
Menggendong tas gw yang lumayan berat juga dan mengucapkan terima kasih ke si Mister, gw pun berdoa dalam hati... kalau memang kita berjodoh, semoga Tuhan mempertemukan kita lagi, tanpa gw perlu tau siapa nama elo dan kemana tujuan lo. Gile yakin banget gw. ckckckck...optimis dengan penyesalan itu namanya... ya sudahlah...melangkahlah gw keluar pesawat

Sampai pintu keluar pesawat dan pintu masuk kembali ke bandara Ngurah Rai, gw masih bisa dengan jelas ngeliat si Mr. Nice jalan. Ah, musti nungguin bagasi dan si Mister sudah tampak di pintu keluar bandara. Rupanya hanya itu toh bawaannya. Bener - bener harus say good bye sekarang.... dan mungkin gak akan ketemu lagi. Ah tapi gw gak mungkin ngejar dia karena gw punya urusan yang lebih penting sekarang. Toilette, gw butuh toilette, sementara tas gw belum keliatan dan sedari setengah atau seperempat perjalanan tadi gw udah nahan ngencing gara - gara gak tega bangunin dia. Mungkin akan lain ceritanya kalau tadi gw bangunin dia aja untuk ke Toilette.. tapi karena belum terlalu kebelet dan gw malahan jadi ngeliatin muke dia bukannya bilang permisi. Alhasil air seni gw berakhir di toilette bandara... kembali menunggu bagasi, si mister tak nampak sudah... sambiil menggeret si koper dan keluar dari pintu bandara, si Mister pun gak keliatan juga.. sedikit tercewa saiaaa

Excuse me, i need to go to the toilette, please.... harusnya ceritanya bisa diawali dari sini siy. hiks hiks hiks... ah tapi aku ndak mau menyesal kok... jadi kalau tidak akan ketemu lagi, ya sudah :(( *sedih sedikit...., gak banyak kok suer...